Purwakata, berifakta.com — Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat penting bagi seluruh kader Partai Golkar Kabupaten Purwakarta untuk menjaga persatuan, kedewasaan politik, dan nilai-nilai demokrasi di tengah dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Purwakarta.
Pengurus Partai Golkar Kabupaten Purwakarta, Rosi Desshara Shabira, menilai Musda tidak semestinya hanya menjadi ajang perebutan kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk membuktikan ide dan gagasan berikut kualitas demokrasi internal dan komitmen partai terhadap regenerasi kader perempuan dan Gen Z sebagaimana sering digaungkan oleh DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat.
Menurut Rosi, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menekan, melainkan kesempatan untuk membangun persatuan melalui penghormatan terhadap hak dan aspirasi setiap individu, termasuk perempuan.
“Musda harus menjadi ruang bagi kader, khususnya kader perempuan, untuk memberikan pandangan ide dan gagasan secara bebas, dewasa, dan bertanggung jawab. Kepemimpinan yang kuat lahir dari kepercayaan, bukan ketakutan. Dukungan yang kokoh tumbuh dari keyakinan, bukan tekanan,” ujar Rosi.
Ia menegaskan bahwa konsolidasi merupakan bagian yang wajar dalam kontestasi organisasi politik. Namun, proses tersebut harus tetap mengedepankan aturan ad art, etika, transparansi, kesetaraan, dan komitmen terhadap juklak juknis po mekanisme organisasi.
Baca Juga : AHY Tunjuk Willem Wandik sebagai Plt Ketua DPD Partai Demokrat Papua
Menurutnya, keberhasilan seorang calon tidak semata-mata diukur dari seberapa besar dukungan yang berhasil dihimpun, tetapi juga dari kemampuannya membangun kepercayaan, membuka ruang bagi perempuan, dan menjaga kehormatan proses demokrasi.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk mengamankan kemenangan, tetapi melupakan bagaimana kemenangan itu diperjuangkan. Dalam organisasi yang sehat, seharusnya dukungan lahir dari keyakinan dan kesadaran, bukan karena merasa tertekan atau takut terhadap konsekuensi dari pilihan yang berbeda,” katanya.
Demokrasi Harus Memberikan Ruang bagi Kebebasan Kader Perempuan
Rosi juga memberi pandangan di tengah meningkatnya dinamika menjelang Musda Golkar Purwakarta.
Ia berpandangan bahwa setiap situasi yang berpotensi menimbulkan keraguan terhadap kebebasan perlu disikapi secara terbuka, objektif, dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Setiap kader perempuan memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan pandangan, jika ada situasi yang menimbulkan pertanyaan mengenai kebebasan tersebut, maka perlu ada penjelasan yang proporsional. Kita harus memastikan bahwa proses organisasi tetap berjalan dengan baik, suara perempuan dihormati, dan kepercayaan kader muda gen Z tetap terjaga,” tegasnya.
Menurut Rosi, penggunaan kewenangan di luar mekanisme internal partai dalam dinamika kontestasi perlu disikapi secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi yang dapat merusak kepercayaan terhadap proses Musda.
Ia menambahkan bahwa menjaga demokrasi bukan berarti memperkeruh persaingan atau menuduh pihak tertentu, melainkan memastikan seluruh pihak menghormati aturan po organisasi, ad art, etika, juklak dan juknis hak setiap kader.
Lebih lanjut, Rosi menilai peringatan Hari Sumpah Pemuda harus menjadi momentum bagi kader perempuan untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah masa depan Golkar Purwakarta.
Baginya, regenerasi tidak cukup diwujudkan melalui pergantian figur dalam struktur kepengurusan. Regenerasi harus disertai kesempatan yang nyata bagi kader perempuan untuk menyampaikan gagasan, mengambil tanggung jawab, dan menunjukkan kapasitas melalui kerja konkret.
“Kader perempuan bukan sekadar pelengkap dalam organisasi. Kami ingin menjadi bagian dari proses yang membangun organisasi, menghadirkan gagasan baru, dan memperkuat kerja nyata. Pengalaman para senior perlu berjalan beriringan dengan keberanian kader perempuan untuk tampil, memimpin, dan membawa dampak perbaikan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan dalam Musda tidak seharusnya memutus komunikasi ataupun menciptakan dinamika yang berkepanjangan.
Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah kepemimpinan, menurutnya, harus mampu merangkul seluruh elemen partai, memperkuat keberpihakan terhadap perempuan dan gen z, juga memberikan ruang kontribusi berdasarkan kapasitas, integritas, serta komitmen terhadap organisasi.
Menang Bukan Hanya Soal Seremoni, tetapi Juga Kepercayaan
Menutup pernyataannya, Rosi mengajak seluruh kader menjadikan Musda sebagai momentum untuk memperkuat persatuan, memperluas partisipasi perempuan, dan meningkatkan kualitas demokrasi internal Partai Golkar Purwakarta.
Ia menekankan bahwa kemenangan dalam kontestasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Cara memperoleh kepercayaan, menghormati perbedaan, memperjuangkan kesetaraan, serta menjaga integritas proses juga menjadi bagian penting dari kualitas kepemimpinan.
“Pada akhirnya, Musda bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Musda adalah tentang bagaimana kita menjaga kehormatan organisasi, memastikan suara perempuan dan Gen Z dihargai, juga memastikan bahwa setelah kontestasi berakhir, seluruh kader tetap memiliki alasan untuk berjalan bersama,” tuturnya.
“Di Hari Sumpah Pemuda ini, mari kita buktikan bahwa keberanian kader perempuan bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menjaga prinsip dan memperjuangkan kesetaraan. Golkar Purwakarta membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun kepercayaan, menghormati perbedaan, berpihak pada perempuan, dan menyatukan kader melalui visi serta kerja nyata,” pungkas Rosi.

