CIREBON, Berifakta.com – Pengalaman sebagai penyintas sekaligus relawan mitigasi bencana membawa Izza Amalia, mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berbagi pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat (15/09).
Izza menjadi narasumber dalam Cari Cara Episode #31 yang mengangkat tema “Ibu Siaga, Keluarga Tangguh Bencana: Tips dan Trik Mitigasi dari Rumah.” Dalam agenda yang diselengarakan Ipedia tersebut, Izza berbagi pengalaman dan pandangannya mengenai pentingnya membangun kesiapsiagaan bencana yang dimulai dari lingkungan keluarga.
Pada agenda yang dipandu oleh Reni Kusuma tersebut, Izza membahas bagaimana perempuan, khususnya ibu, dapat mengambil peran dalam membangun keluarga yang lebih siap menghadapi berbagai risiko bencana.
Menurut Izza, mitigasi bencana tidak semata-mata berkaitan dengan tindakan ketika bencana sudah terjadi. Justru, kesiapsiagaan perlu dibangun jauh sebelum bencana datang.
“Mitigasi bencana ternyata bukan cuma soal apa yang kita lakukan ketika bencana terjadi. Tapi tentang apa yang sudah kita siapkan sebelum bencananya datang,” ujar Izza.
Perspektif tersebut tidak terlepas dari pengalaman personal Izza. Ia merupakan penyintas banjir bandang Pati pada 2004 yang menewaskan salah satu teman kecilnya. Pengalaman sebagai penyintas kemudian bertemu dengan kiprahnya sebagai relawan mitigasi bencana dan keterlibatannya dalam berbagai proyek edukasi lingkungan, perubahan iklim, serta kebencanaan.
Bawa Inovasi Edukasi Kebencanaan ke Forum Internasional
Selain aktif sebagai relawan, Izza juga mengembangkan pendekatan edukasi kebencanaan melalui media yang lebih interaktif.
Pada April lalu, ia menjadi delegasi terbaik dalam sebuah program internasional yang mengusung tema SDGs poin 13 tentang perubahan iklim. Dalam program tersebut, Izza membawa inovasi edukasi berupa boardgame PRIMA (Peduli Risiko Iklim dan Mitigasi Bencana) ke Singapura dan Malaysia.
Boardgame tersebut mengangkat isu lingkungan, perubahan iklim, dan mitigasi bencana sebagai bagian dari upaya membuat edukasi kebencanaan lebih dekat dengan masyarakat.
Berbagai pengalaman tersebut membuat Izza melihat bahwa pembahasan mengenai mitigasi bencana perlu dibawa lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.
“Bencana tidak pernah memilih waktu yang tepat,” katanya.
Gempa bisa terjadi ketika seseorang sedang mandi, banjir dapat datang ketika anak sedang berada di sekolah, sementara kebakaran bisa terjadi ketika keluarga sedang tertidur.
Dalam situasi darurat, keluarga mungkin hanya memiliki waktu yang sangat singkat untuk mengambil keputusan. Karena itu, menurut Izza, kesiapsiagaan tidak seharusnya baru dibicarakan ketika bencana telah terjadi.
Dimulai dari Hal Sederhana di Rumah
Dalam sesi Cari Cara Episode #31, Izza juga mengajak masyarakat melihat mitigasi bencana dari perspektif yang lebih sederhana dan realistis.
Menurutnya, kesiapsiagaan dapat dimulai dari hal-hal yang dilakukan sehari-hari. Misalnya, menata barang-barang di rumah, mengetahui jalur keluar, mengajarkan anak mengenai tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat, hingga menentukan satu titik berkumpul apabila anggota keluarga terpisah.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana ketika kondisi berlangsung normal. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi penting ketika keluarga menghadapi situasi darurat.
Izza juga menekankan bahwa konsep keluarga tangguh bencana tidak berarti seluruh tanggung jawab harus dibebankan kepada ibu.
“Keluarga tangguh bencana bukan berarti ibu harus menjadi superhero yang bertanggung jawab menyelamatkan semuanya. Justru keluarga yang tangguh adalah keluarga yang sama-sama tahu, sama-sama siap, dan sama-sama punya peran,” jelasnya.
Melalui keterlibatannya dalam edukasi dan mitigasi bencana, termasuk sebagai narasumber dalam Cari Cara Episode #31, Izza mendorong agar kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kebiasaan keluarga.
Bagi mahasiswa pascasarjana UMM tersebut, keluarga tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana sudah terjadi, melainkan jauh sebelumnya melalui pengetahuan, kebiasaan, latihan, serta keputusan-keputusan kecil yang dilakukan bersama.
“Ibu siaga, keluarga tangguh bencana,” menjadi pesan utama yang dibawa Izza dalam agenda tersebut. (*)

