Purwakarta, berifakta.com — Program Studi Mekatronika dan Kecerdasan Buatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta menggelar Workshop Pengenalan dan Pemanfaatan Teknologi Pengelolaan Air Pertanian di Aula Desa Sumber Sari, Kabupaten Purwakarta, Jumat (2/10/2026). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menyasar para petani dari Kelompok Tani Tani Mukti untuk mengatasi persoalan klasik di lahan mereka: air irigasi yang keruh dan pasokan yang kerap kembang kempis.
Selama ini, kelompok tani yang mengelola sekitar lima hektare sawah varietas Ciherang dan Inpari 32 itu mengandalkan aliran Situ Wanayasa. Masalahnya, air terlebih dahulu melewati kawasan rawan pencemaran sebelum tiba di sawah. Saat musim hujan, sedimen lumpur yang pekat kerap membuat saluran mampet dan menciptakan genangan. Sebaliknya, saat kemarau datang, debit air melorot drastis. Akibatnya, produktivitas gabah mereka tertahan di angka 4,2 ton per hektare, masih jauh di bawah potensi idealnya yang bisa menembus 5,5 hingga 6 ton.
Menjawab keluhan tersebut, tim dosen dan mahasiswa UPI memperkenalkan Portable Filtration Smart Irrigation System. Inovasi ini hadir bak oase bertenaga surya; mengandalkan panel 240 Wp dan baterai 24 V untuk memompa air tanpa harus menyusu pada listrik PLN maupun menenggak solar. Air disedot lalu dipaksa melewati rangkaian filter bertingkat yang menjegal pasir, lumpur, dan kotoran organik sebelum dialirkan bersih ke petak sawah. Menariknya, seluruh unit ini nangkring di atas rangka beroda sehingga gampang digeser ke titik lahan yang sedang kehausan.
Tak sekadar menyaring, sistem ini dibekali “otak” pintar berupa mikrokontroler ESP32-S3. Debit air, kualitas zat padat terlarut (TDS), hingga daya energi dipantau secara real-time via sensor Internet of Things (IoT).
“Selama ini petani mengatur air sekadar pakai ilmu titen atau mengira-ngira berdasarkan pengalaman visual saja,” ujar Ketua Tim Pengabdian UPI Kampus Purwakarta, Dewi Indriati Hadi Putri, S.Pd., M.T. “Lewat alat ini, kami ingin petani melek data. Keputusan kapan dan berapa banyak mengairi sawah kini ada dasarnya, karena angkanya terpampang jelas di layar unit maupun dashboard daring.”
Baca Juga : UPI Purwakarta Latih Guru SD dalam Konseling Moral

Dewi turun langsung bersama tim dosen—Ir. Nuur Wachid Abdulmajid, M.Pd., IPM., ASEAN Eng.; Mahmudah Salwa Gianti, S.Si., M.Eng.; dan Hafiyyan Putra Pratama, S.ST., M.T.—serta dibantu para mahasiswa. Setelah melalui enam kali Focus Group Discussion (FGD) sejak Juni lalu untuk merancang alat yang sesuai kebutuhan, workshop ini menjadi ajang “pemanasan”. Sepuluh perwakilan petani diajak praktik langsung mulai dari menyalakan mesin, membaca dasbor, membersihkan filter, hingga menangani gangguan ringan.
Kemudahan ini disambut antusias oleh warga. Salah satu anggota Kelompok Tani Tani Mukti mengaku inovasi ini sangat meringankan beban operasional di lapangan. “Biasanya kalau mau mompa air harus nyalakan mesin diesel, biaya beli solarnya lumayan bikin pusing. Ini murni pakai tenaga matahari, jadi kami sangat terbantu. Pas dicoba langsung, cara pakainya juga ternyata enggak ribet,” ungkapnya.
Petani lain menambahkan bahwa kehadiran angka pasti di layar membantu pembagian air antarpetak menjadi lebih adil dan transparan, sekaligus menjaga saluran irigasi tak lagi mudah tersumbat lumpur saat musim hujan.
Program yang didanai oleh Dana RKAT UPI Tahun Anggaran 2026 ini dirancang untuk jangka panjang. Ke depan, tim akan mendampingi uji coba kinerja filtrasi di lahan secara penuh dan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) bersama Tim Operator Irigasi Desa bentukan warga. Melalui kemandirian teknologi ini, UPI berharap pengelolaan air pertanian di Sumber Sari bisa lebih hemat, berkelanjutan, dan berkontribusi langsung pada ketahanan pangan sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 6 tentang Air Bersih dan poin 2 tentang Tanpa Kelaparan.

