Bogor, berifakta.com – Siapa sangka sisa-sisa makanan dari dapur rumah tangga bisa berubah menjadi sumber cuan dan protein yang bernilai gizi tinggi? Di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, tepatnya di Kebun Merdesa, ‘keajaiban’ kecil ini mulai diwujudkan.
Lewat program “Dosen Pulang Kampung” yang diinisiasi oleh LP2AI IPB University, Senin (10/8/2026), warga diajak untuk melihat sampah organik bukan lagi sebagai masalah yang bikin pusing, melainkan harta karun yang belum diolah.
Sebanyak 30 peserta, mulai dari ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT), kader Posyandu, hingga anak muda Karang Taruna dan mahasiswa—tampak antusias berkumpul di Kebun Merdesa. Mereka mendengarkan langsung ide cemerlang dari Prof. Dr. Sofyan Sjaf, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University. Idenya cukup sederhana namun berdampak besar: mengawinkan budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) dengan peternakan ayam petelur.
Menariknya, program “Dosen Pulang Kampung” ini punya makna yang lebih dalam. Prof. Sofyan menjelaskan, pulang kampung tidak melulu dimaknai sebagai rutinitas kembali ke tanah kelahiran.
“Kampung secara sosiologis bukan hanya tempat seseorang dilahirkan, tetapi juga tempat beraktivitas dan membangun kehidupan sosial. Karena itu, Kebun Merdesa menjadi ruang yang sangat tepat untuk membangun proses pembelajaran dan pemberdayaan bareng masyarakat,” ujar Prof. Sofyan yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Riset kegiatan ini.
Baca Juga: IPB CHARTS Gelar Diskusi Publik Bahas Transformasi Pedesaan di Tiongkok
Lalu, bagaimana cara kerja ekonomi sirkular yang ditawarkan? Simpelnya begini: warga bisa memanfaatkan sampah organik atau sisa makanan dari dapur sebagai media ternak atau pakan maggot BSF. Nah, maggot-maggot yang gemuk dan kaya protein ini nantinya dipanen untuk dijadikan pakan utama bagi ayam petelur.
Pendekatan ini bikin limbah yang tadinya cuma dibuang sia-sia, kini punya siklus hidup baru yang produktif. Sampah hilang, ayam kenyang, dan warga bisa memanen telur untuk dikonsumsi sendiri atau dijual. Win-win solution!
“Ekonomi sirkular ini potensinya luar biasa. Selain bisa menaikkan ekonomi warga lokal, persoalan sampah di desa juga pelan-pelan teratasi. Material yang tadinya dianggap limbah, kini punya nilai ekonomi yang jelas,” jelas Prof. Sofyan.
Asyiknya lagi, Kebun Merdesa tidak disulap menjadi tempat eksklusif. Kawasan hijau ini sengaja disiapkan menjadi learning center atau ruang belajar terbuka untuk publik.
Prof. Sofyan menegaskan bahwa siapa saja boleh mampir ke sini. Mulai dari kelompok tani, pemuda desa, hingga mahasiswa yang ingin belajar praktik pemberdayaan masyarakat, semua disambut dengan tangan terbuka.
“Harapannya, tempat ini bisa berkembang jadi tempat masyarakat dan mahasiswa belajar bersama, bertukar ilmu, dan menelurkan inovasi-inovasi baru,” tambahnya.
Kolaborasi asik antara kampus, ibu-ibu warga desa, hingga anak muda ini membuktikan bahwa ilmu dari perguruan tinggi tidak seharusnya mengendap di ruang kuliah saja. Dengan aksi nyata di Kebun Merdesa, masyarakat Desa Cikarawang kini punya bekal baru: menyelamatkan lingkungan sekaligus menebalkan isi dompet lewat cara yang berkelanjutan. Keren, kan?

