Barelang, berifakta.com — Sebanyak 50 rumah tangga di Kawasan Transmigrasi Rempang Eco City (REC), Barelang, Kepulauan Riau, mengikuti pelatihan pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming pada 5–6 September 2026. Program ini merupakan bagian dari Ekspedisi Patriot 2026 yang digagas melalui kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan IPB University.
Berlokasi di Rumah Percontohan Blok H7-04 REC, pelatihan ini mengangkat tema “Pelatihan dan Demonstrasi Pengembangan Urban Farming Sayuran untuk Ketahanan Pangan, Penyediaan Sumber Gizi dan Peningkatan Pendapatan Keluarga.” Warga tidak sekadar menerima materi di dalam kelas, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik budidaya, mulai dari penyiapan media tanam, pembuatan kompos, hingga penanaman sayuran menggunakan medium polybag.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University, Dr. Endang Gunawan, S.P., M.Si., menekankan bahwa program ini dirancang agar tidak berhenti pada transfer pengetahuan teoretis. Menurutnya, masyarakat harus dibekali keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri.
“Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menghubungkan pengetahuan perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat di kawasan transmigrasi,” ungkap Endang.
Sesi materi teknis dipandu oleh Surapati, S.P., yang memaparkan prinsip dasar urban farming di lahan terbatas. Edukasi dilanjutkan dengan praktik pembuatan media tanam. Warga diajarkan cara mencampur tanah top soil, pupuk kandang, kompos, dolomit, dan arang batok kelapa sesuai takaran. Mereka juga dikenalkan pada penggunaan pupuk NPK dan urea, serta teknik mengolah bahan organik rumah tangga menjadi kompos.
Baca Juga : Akademisi IPB Soroti Ketahanan Lingkungan Sebagai Upaya Harmonisasi Multikultural
Menariknya, pelatihan ini juga melibatkan pemanfaatan teknologi. Tim Ekspedisi Patriot IPB menerbangkan drone di sekitar lokasi untuk memetakan kawasan. Citra udara tersebut digunakan sebagai data visual guna mengidentifikasi ruang-ruang di permukiman yang berpotensi dimanfaatkan untuk perluasan pertanian skala rumah tangga.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan, ke-50 rumah tangga sasaran menerima bantuan paket sarana urban farming yang diserahkan secara simbolis melalui perwakilan Rukun Tetangga (RT). Paket tersebut mencakup polybag, pupuk NPK, urea, dolomit, tanah top soil, pupuk kandang, arang batok kelapa, serta beragam benih sayuran seperti selada, caisim, pakcoy, bayam, kangkung, cabai rawit putih, terong gelatik, dan tomat.
Staf Khusus (Ad Hoc) Pengembangan Kawasan Transmigrasi REC, Kolonel CPM Yudo Pramono, S.E., S.H., CHRMP., menyambut baik inisiatif ini. Ia menyatakan bahwa pengembangan kawasan memang harus didukung oleh program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Dalam konteks pemanfaatan ruang permukiman secara produktif, urban farming ini menjadi salah satu alternatif yang sangat tepat,” tegas Yudo.
Dukungan serupa datang dari Lurah Sembulang, Zainal, S.I.P. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci agar sarana dan ilmu yang diberikan tidak terbuang sia-sia.
“Hasil budidaya ini utamanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Namun, apabila dikembangkan secara konsisten, tentu berpotensi memberikan tambahan pendapatan ekonomi,” kata Zainal.
Rangkaian acara selama dua hari tersebut ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber. Melalui Ekspedisi Patriot 2026 ini, IPB University dan Kementerian Transmigrasi berharap keterampilan yang telah diberikan dapat menjadi pijakan awal bagi warga REC untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri dan berkelanjutan.

