Bogor, berifakta.com – Kecepatan transformasi ekonomi Tiongkok tidak terlepas dari fondasi kuat pembangunan pedesaan. Isu tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk How to Understand Rural Transformation in China yang digelar IPB Center of Excellence for China Rural Transformation Studies (IPB CHARTS) di IPB University, Senin (27/4).
Perwakilan IPB CHARTS, Prof. Rilus Kinseng, menyatakan bahwa pengalaman Tiongkok dalam membangun wilayah pedesaan relevan untuk dipelajari oleh negara lain, termasuk Indonesia. Menurut dia, Indonesia dan Tiongkok memiliki kesamaan karakter kewilayahan yang masih didominasi kawasan pedesaan.
“Transformasi pesat Tiongkok bertumpu pada perubahan fundamental di wilayah pedesaan. Pengalaman ini penting sebagai pembelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat arah pembangunan yang kini juga menempatkan desa sebagai basis utama,” kata Rilus.
Pengalaman Transformasi Tiongkok
Narasumber diskusi, akademisi China Agricultural University (CAU) Prof. Tang Lixia, menjelaskan bahwa reformasi di Tiongkok dimulai dari wilayah pedesaan sejak 1978. Transformasi tersebut berlangsung secara bertahap, diawali dengan reformasi sistem kepemilikan tanah yang memberikan hak guna lahan kepada petani kecil pada periode 1978–1985.
Memasuki dekade 1990-an, lanjut Tang, proses industrialisasi mulai didorong dan berdampak pada meningkatnya perpindahan tenaga kerja dari desa ke kawasan perkotaan. Dalam perjalanannya, industrialisasi tersebut sempat memicu ketimpangan pendapatan yang signifikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Baca Juga : Akademisi IPB Soroti Ketahanan Lingkungan Sebagai Upaya Harmonisasi Multikultural
“Sejak 2004, pemerintah Tiongkok memulai integrasi desa dan kota melalui investasi besar-besaran di sektor pertanian, infrastruktur transportasi, serta layanan publik. Transformasi pedesaan di Tiongkok berkembang melalui beberapa tahapan penting, mulai dari penerapan sistem tanggung jawab rumah tangga, industrialisasi dan urbanisasi, pembangunan infrastruktur desa, hingga strategi revitalisasi pedesaan yang menekankan lima aspek utama, yakni penguatan bisnis berbasis pertanian, pembangunan ekologi, pelestarian budaya, serta tata kelola pedesaan yang lebih modern dan inklusif,” ulasnya.
Ia menambahkan, kondisi pedesaan Tiongkok saat ini telah mengalami perubahan besar dibandingkan masa lalu dan menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional jangka panjang.
“Hubungan desa-kota di Tiongkok telah bergeser dari struktur dualistik menuju pembangunan yang lebih terintegrasi. Mata pencaharian petani juga mengalami pergeseran dari sektor pertanian ke sumber pendapatan non-pertanian, disertai pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Selain itu, produksi pertanian di Tiongkok semakin mekanis dan bergerak dari skala kecil menuju operasi berskala menengah, sementara fungsi kawasan perdesaan menjadi semakin beragam,” pungkasnya.
Diketahui, diskusi yang digelar IPB CHARTS ini direncanakan berlangsung secara berseri. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan akademik lintas negara, khususnya dalam memahami dinamika transformasi pedesaan. (Wid/AMA)

