MALANG, Berifakta.com – Perjalanan Korea Selatan dari negara miskin menjadi raksasa ekonomi dunia, atau yang sering disebut sebagai “Keajaiban Sungai Han”, menyimpan berbagai pelajaran penting bagi negara berkembang.
Kesuksesan industrialisasi ini dikupas secara mendalam oleh Dr. Sung-Young Kim dalam perkuliahan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda ini didukung oleh Seed Program for Korean Studies dari Kementerian Pendidikan Republik Korea dan Korean Studies Promotion Service di Academy of Korean Studies.
Dalam paparannya, Dr. Kim yang merupakan Associate Professor bidang Politik dan Hubungan Internasional dari Macquarie University menekankan bahwa faktor terpenting di balik keajaiban ekonomi Korea adalah peran dari negara. Berbeda dengan penjelasan yang hanya berfokus pada budaya (Konfusianisme) atau penjelasan yang digerakkan oleh pasar semata, kesuksesan tersebut sangat bergantung pada institusi negara pembangunan atau developmental state.
“Untuk mengejar ketertinggalan ekonomi dari Jepang dan Barat, pemerintah Korea menjadikan transformasi ekonomi sebagai prioritas utama melalui komitmen terhadap kebijakan industri strategis,” jelas Dr. Kim.
Ia menambahkan bahwa peran ini dieksekusi oleh lembaga percontohan ekonomi yang terisolasi dari kepentingan khusus, seperti Economic Planning Board (EPB), yang diisi oleh pemikir-pemikir terbaik dari hasil ujian pegawai negeri sipil nasional.
Terkait hubungan pemerintah dan bisnis, Dr. Kim menjelaskan konsep Governed Interdependence atau saling ketergantungan yang diatur. Dalam hal ini, kapasitas negara bergantung pada kemampuannya untuk bekerja melalui sektor bisnis, bukan bertindak di atas bisnis tersebut.
Pemerintah tidak menggantikan peran pasar, melainkan menggunakan pasar untuk mencapai tujuan-tujuan strategis. Kemitraan terstruktur dengan para konglomerat (chaebol) seperti grup Samsung dan Hyundai-Kia inilah yang menjadi mesin pendorong transisi dari tahap imitasi teknologi menuju inovasi.
Lebih lanjut, Dr. Kim juga menyoroti berbagai tantangan di masa kini, mengingat status Korea Selatan yang kini telah menjadi ekonomi industri yang matang. Pertumbuhan ekonomi yang mulai dinormalisasi sejak Krisis Finansial Asia 1997 memunculkan berbagai isu domestik, mulai dari ketimpangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kesenjangan gender, hingga transisi fokus pemerintah menuju “Pertumbuhan Hijau” atau Green Growth.
Di ranah global, kembalinya kompetisi negara adidaya di sektor teknologi mengharuskan Korea merespons dengan cepat. Akibat strategi pembatasan (choke-point) AS terhadap Tiongkok, Korea menerapkan keahlian ekonomi negara yang berfokus ke dalam negeri dan bekerja sama dalam inisiatif kerja sama friend-shoring dengan Amerika Serikat.
Melalui kuliah ini, mahasiswa UMM diharapkan mampu memahami bahwa intervensi kebijakan publik bukan semata-mata tentang diintervensi atau tidak, melainkan tentang kualitas tata kelola pemerintahan yang menentukan kesuksesan negara. (*)

