MALANG, Berifakta.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, integritas metodologi dalam penelitian kualitatif menjadi tantangan tersendiri bagi akademisi muda. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) memang menawarkan efisiensi, namun peran manusia sebagai pemegang otoritas intelektual tetap tidak tergantikan dalam menghasilkan penelitian yang mendalam dan beretika.
Fenomena ini dikupas secara menyeluruh oleh Dion Maulana Prasetya, Ph.D., dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea.
Dalam paparannya, Dion menekankan adanya pembagian peran yang jelas antara teknologi dan peneliti. “AI pada dasarnya hanyalah pendukung untuk kegiatan seperti brainstorming tema luas atau merapikan tata bahasa draf transkrip. Namun, otoritas untuk mempersempit tema menjadi tesis yang unik dan spesifik mutlak berada di tangan manusia,” tegasnya di hadapan para mahasiswa.
Dion menjelaskan bahwa dalam studi Korea, berbagai pendekatan kualitatif harus dipilih secara presisi sesuai dengan fenomena yang diamati. Pendekatan fenomenologi, misalnya, digunakan untuk menangkap “esensi” atau makna mendalam dari pengalaman hidup yang sangat personal. “Melalui pendekatan ini, kita bisa membedah bagaimana perasaan para penyintas perang atau Comfort Women memaknai identitas dan keadilan melalui wawancara naratif yang mendalam,” jelas Dion.
Selain metode konvensional, Dion juga mendorong mahasiswa untuk menguasai teknik riset modern seperti netnografi. Teknik ini dinilai sangat efektif untuk melakukan observasi kualitatif di ruang digital. “Metode netnografi memungkinkan kita menganalisis sentimen nasionalisme di forum online Korea terkait isu perbatasan secara real-time, sesuatu yang sangat relevan dengan fenomena modern saat ini,” tambahnya.
Terkait proses analisis data, Dion mengingatkan bahwa meskipun AI dapat membantu menyarankan label kode berdasarkan frekuensi kata, tahap penafsiran tetap membutuhkan kepekaan rasa manusia. Peneliti harus mampu menafsirkan emosi dan konteks yang sering kali tersembunyi di balik data kualitatif.
“Hasil akhir riset harus memastikan bahwa ‘Suara Penulis’ tetap merupakan suara asli mahasiswa, bukan sekadar hasil olahan mesin,” pungkas Dion dalam materinya. Melalui kelas tamu yang interaktif ini, mahasiswa HI UMM diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi dalam riset tanpa kehilangan ketajaman analisis kritis yang menjadi ciri khas ilmu sosial. (*)

