MALANG, Berifakta.com – Korea Selatan kini tengah mengalami transisi besar dari negara beretnis tunggal (dan-il minjok) menjadi masyarakat yang semakin majemuk dan terglobalisasi. Transformasi dan irisan antara Islam dengan masyarakat Korea ini dibedah secara mendalam oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea.
Menurut Prof. Gonda, kehadiran Islam di Korea bukanlah hal yang terjadi dalam semalam. Akar sejarahnya membentang dari jaringan perdagangan kuno Jalur Sutra, pengenalan Islam oleh tentara Turki saat bernaung di bawah pasukan PBB, hingga terbangunnya fondasi institusional seperti Masjid Sentral Seoul di Itaewon pada tahun 1976.
Saat ini, wajah komunitas Muslim di Korea sangat beragam dan tidak bisa dipandang sebagai satu kelompok monolitik. Lanskap demografinya diisi oleh mualaf asli Korea, mahasiswa asal Malaysia, ekspatriat dari Timur Tengah, hingga pekerja migran asal Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia.
“Komunitas Indonesia merupakan salah satu kelompok nasional Muslim terbesar di Korea,” jelas pemaparan tersebut. Masyarakat Indonesia di sana memainkan peran yang dinamis, mulai dari mahasiswa penerima beasiswa, pekerja manufaktur di bawah Employment Permit System (EPS), akademisi, hingga pengusaha yang membuka restoran halal dan toko kebutuhan Islam.
Meski demikian, proses integrasi kelompok Muslim di Korea tidak selalu berjalan mulus. Prof. Gonda menyoroti berbagai tantangan harian di tempat kerja, seperti terbatasnya akses sertifikasi makanan halal, minimnya fasilitas untuk ibadah shalat lima waktu, hingga benturan budaya dengan norma sosial Korea (seperti budaya minum-minum usai jam kerja). Isu Islamofobia juga sempat mencuat, terlihat dari adanya penolakan warga lokal terhadap pembangunan masjid di luar Itaewon, seperti kasus yang terjadi di Daegu.
Di sisi lain, terdapat peluang ekonomi dan diplomasi yang sangat menjanjikan. Korea Selatan kini aktif mengincar pasar industri halal global melalui sertifikasi produk dan pariwisata ramah Muslim. Ketertarikan masyarakat Muslim dunia terhadap Korea juga didorong kuat oleh fenomena Hallyu (Gelombang Korea), di mana K-Pop, K-Drama, dan produk kosmetik Korea mendapatkan tempat istimewa di berbagai negara mayoritas Muslim.
Sebagai penutup, Prof. Gonda menekankan pentingnya pertukaran pelajaran antara Indonesia dan Korea Selatan. Korea Selatan dipandang perlu belajar dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan tradisi toleransi lintas agama yang ada di Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat mengadopsi keberhasilan Korea dalam membangun sistem kesejahteraan migran yang didanai negara, seperti Pusat Dukungan Keluarga Multikultural. (*)

