MALANG, Berifakta.com – Praktikum sekaligus eksibisi Atmosheral 4.0 garapan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (11/07) menyajikan daya tarik yang tak biasa. Dari 10 representasi kawasan dunia yang meramaikan Aula BAU UMM, kawasan Korea tampil mencolok dengan membawakan dua wajah yang kontras sekaligus berkesinambungan: Korean Modern dan Korean Dynasty.
Pembagian kawasan Korea menjadi dua kelompok ini bukan tanpa alasan. Mahasiswa diajak untuk membedah identitas Korea secara komprehensif, mulai dari akar sejarah, tradisi, dan konstelasi politik masa kerajaan (Dynasty), hingga manuver soft power, industri kreatif, serta dinamika ekonomi geopolitik di era kontemporer (Modern). Eksekusinya pun terbukti maksimal. Kelompok Korean Dynasty bahkan sukses keluar sebagai peraih predikat Best Performance berkat pertunjukan seni yang sangat otentik.
Di balik totalitas unjuk karya tersebut, ketajaman analisis mahasiswa nyatanya lahir dari pondasi akademik yang berbobot. Kelas Kajian Kawasan Korea ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies. Lebih dari itu, inisiatif akademik lintas negara ini turut mendapat dukungan langsung dari Kementerian Pendidikan Republik Korea.
Sokongan internasional inilah yang menjadi pembeda utama. Berkat akses terhadap riset mutakhir dan kurikulum berstandar global dari kolaborasi tersebut, presentasi yang dibawakan oleh kelompok Korean Dynasty maupun Korean Modern tidak jatuh sekadar menjadi ajang cosplay budaya. Mereka mampu mengedukasi pengunjung dengan narasi yang mendalam tentang bagaimana sejarah panjang semenanjung Korea bertransformasi menjadi kekuatan global di masa kini.
Pada akhirnya, kesuksesan representasi dua era Korea di panggung Atmosheral 4.0 menjadi bukti nyata kualitas ekosistem belajar di HI UMM. Perpaduan antara kemitraan akademik kelas dunia dan wadah eksplorasi kreatif berhasil mencetak mahasiswa yang tidak hanya kuat secara teori, namun juga fasih menerjemahkan kompleksitas identitas suatu bangsa menjadi diplomasi kultural yang brilian di mata publik. (*)

