By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Berifakta.comBerifakta.com
  • News
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pemerintah
    • Internasional
  • Regional
    • Jawa Barat
      • Cirebon
      • Indramayu
      • Purwakarta
      • Bandung Raya
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
  • Olahraga
    • Bola
    • Bulutangkis
  • Hiburan
    • Film
    • Musik
    • Seleb
  • Lifestyle
    • Health
    • Trends
  • Kolom
    • Opini
    • Khazanah
  • Job Vacancy
Cari
Health
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Tulisan
Entertainment
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Tulisan
© 2022 berifakta.com - All Rights Reserved.
Reading: Di Balik Gemerlap Hallyu: Dosen University of Melbourne Ungkap Ketimpangan Sosial Lewat Bahasa di Kelas HI UMM
Share
Sign In
Notification Show More
Latest News
Purwakarta: Bukan Tanah yang Dijanjikan Ekonomi Bertumbuh
3 Juni, 2026
Gandeng Macquarie University, Prodi HI UMM Kupas Tuntas Keajaiban Ekonomi dan “Developmental State” Korea Selatan
30 Mei, 2026
Gandeng University of Auckland, Prodi HI UMM Soroti Transformasi Riset Kualitatif dan Etika AI
18 Mei, 2026
XTC Purwakarta Dukung Langkah Hukum Abang Ijo, Ajak Masyarakat Berani Tuntut Hak
15 Mei, 2026
Children Performance Smart Auladi, Panggung Tumbuh Kembang dan Keberanian Anak
14 Mei, 2026
Aa
Berifakta.comBerifakta.com
Aa
  • News
  • Regional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Kolom
  • Job Vacancy
Cari
  • News
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pemerintah
    • Internasional
  • Regional
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
  • Olahraga
    • Bola
    • Bulutangkis
  • Hiburan
    • Film
    • Musik
    • Seleb
  • Lifestyle
    • Health
    • Trends
  • Kolom
    • Opini
    • Khazanah
  • Job Vacancy
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Tulisan
© 2022 berifakta.com - All Rights Reserved.
Berifakta.com > News > Pendidikan > Di Balik Gemerlap Hallyu: Dosen University of Melbourne Ungkap Ketimpangan Sosial Lewat Bahasa di Kelas HI UMM
Pendidikan

Di Balik Gemerlap Hallyu: Dosen University of Melbourne Ungkap Ketimpangan Sosial Lewat Bahasa di Kelas HI UMM

Redaksi
Redaksi 22 April, 2026
Share
4 Min Read

MALANG, Berifakta.com – Di balik popularitas budaya pop Korea Selatan yang mendunia, tersimpan realitas sosial yang kompleks terkait penggunaan bahasanya. Bahasa Korea di era modern tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, namun juga telah menjelma menjadi penentu kelas sosial yang kerap memicu diskriminasi bagi kelompok minoritas.

Realitas sosiolinguistik ini dikupas tuntas oleh Dr. Nicola Fraschini, dosen dari Asia Institute, University of Melbourne, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. 

Mengangkat tema mengenai sejarah alfabet Korea hingga perpecahan bahasa Korea Utara dan Selatan, pemaparan Dr. Nicola membuka mata mahasiswa mengenai hierarki prestise bahasa di semenanjung tersebut.

Dr. Nicola menjelaskan bahwa masyarakat Korea Selatan saat ini sangat berorientasi pada ibu kota, Seoul. Meskipun secara resmi bahasa standar tidak lagi semata-mata didefinisikan sebagai bahasa Seoul , pada kenyataannya, dialek ibu kota tersebut dianggap sebagai “standar emas”.

Bahasa Seoul secara sosial dipersepsikan memiliki tingkat yang lebih tinggi dan menandakan pendidikan yang layak. Sebaliknya, hal ini menciptakan stigma. “Seringkali penutur variasi bahasa daerah, atau mereka yang memiliki aksen regional, dipandang sebagai orang yang kurang berpendidikan,” jelas Dr. Nicola dalam materinya.

Hierarki bahasa ini memberikan dampak yang lebih berat bagi para pendatang, khususnya istri migran yang jumlahnya terus meningkat di Korea Selatan sejak tahun 2000-an. Mereka tidak hanya dihadapkan pada kendala komunikasi dasar, tetapi juga ketidaksetaraan di lingkungan sosial dan tempat kerja akibat keterbatasan keterampilan sosiolinguistik.

Mirisnya, istri migran yang tinggal di daerah pedesaan sering kali merasa direndahkan dua kali lipat saat berinteraksi dengan penutur asli di tempat kerja atau di Seoul. Mereka mendapat diskriminasi ganda: sebagai warga negara asing dan sebagai penutur dialek daerah yang dianggap tidak standar. Oleh karena itu, banyak perempuan migran melihat penguasaan bahasa Seoul sebagai satu-satunya cara untuk menaiki tangga sosial.

Diskriminasi linguistik ini juga dirasakan secara nyata oleh para pengungsi atau pembelot dari Korea Utara. Meskipun bahasa Korea Utara dan Selatan pada dasarnya dapat saling dipahami , aksen dan kosakata khas Korea Utara sering kali mendapat stigma negatif dan bahkan kerap dijadikan bahan ejekan di media Korea Selatan.

Akibatnya, aksen Korea Utara menjadi penghalang besar bagi para pembelot untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, bahkan untuk sekadar mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini memaksa banyak pengungsi merasa tertekan untuk berasimilasi, berupaya keras menghilangkan aksen asli mereka agar bisa diterima oleh masyarakat Korea Selatan. Seperti yang disoroti oleh Dr. Nicola, hal yang memunculkan dinding pembatas sosial sebenarnya bukanlah bahasanya itu sendiri, melainkan ideologi yang diasumsikan orang-orang berada di balik bahasa tersebut.

Melalui kelas tamu yang interaktif ini, mahasiswa HI UMM diajak untuk melihat dinamika kawasan Asia Timur dari lensa yang lebih kritis. Bahasa terbukti bukan sekadar produk budaya, melainkan instrumen kekuasaan yang secara senyap membentuk identitas, stratifikasi sosial, dan realitas integrasi di Korea modern. (*)

TAGGED: HI UMM
Redaksi 22 April, 2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Share
Previous Article STRONGER THAN LIMITS: Mengungkap Fakta Ilmiah Mencapai Tubuh Ideal di Tengah Tantangan Autoimun
Next Article 13 Tahun Bertumbuh, Edu Global School Rayakan Perjalanan Lewat EGSVERSARY
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikuti Kami

235.3k Followers Like
69.1k Followers Follow
11.6k Followers Pin
56.4k Followers Follow
136k Subscribers Subscribe
4.4k Followers Follow

Berita Lainnya

Purwakarta: Bukan Tanah yang Dijanjikan Ekonomi Bertumbuh
Opini 3 Juni, 2026
Gandeng Macquarie University, Prodi HI UMM Kupas Tuntas Keajaiban Ekonomi dan “Developmental State” Korea Selatan
Pendidikan 30 Mei, 2026
Gandeng University of Auckland, Prodi HI UMM Soroti Transformasi Riset Kualitatif dan Etika AI
Pendidikan 18 Mei, 2026
XTC Purwakarta Dukung Langkah Hukum Abang Ijo, Ajak Masyarakat Berani Tuntut Hak
News 15 Mei, 2026

Berita Lainnya

Pendidikan

Gandeng Macquarie University, Prodi HI UMM Kupas Tuntas Keajaiban Ekonomi dan “Developmental State” Korea Selatan

30 Mei, 2026
Pendidikan

Gandeng University of Auckland, Prodi HI UMM Soroti Transformasi Riset Kualitatif dan Etika AI

18 Mei, 2026
Pendidikan

Children Performance Smart Auladi, Panggung Tumbuh Kembang dan Keberanian Anak

14 Mei, 2026
Pendidikan

Dari “Barbar Timur” ke “Little China”: Prof. Changzoo Song Bedah Trajektori Panjang Identitas Korea di Kelas HI UMM

5 Mei, 2026
Show More
Berifakta.comBerifakta.com
Follow US

© 2022 berifakta.com - All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Tulisan

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?