MALANG, Berifakta.com – Gelombang budaya Korea atau Hallyu yang direpresentasikan oleh grup idola seperti BTS, popularitas K-drama, hingga tren kuliner rupanya telah menjelma menjadi fondasi soft power yang kuat bagi kerja sama ekonomi makro antara Indonesia dan Korea Selatan. Transformasi kemitraan yang semakin erat ini dibedah secara mendalam oleh pemateri Havidz Ageng Prakoso, M.A dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 8 April 2026 lalu. Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea.
Mengangkat tema “Indonesia – Republic of Korea in Economic Cooperations: The Economic Sustainable Interdependence”, pemaparan ini menyoroti lonjakan kerja sama strategis pasca resmi diimplementasikannya perjanjian Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada tahun 2023 lalu.
Dalam paparannya, Havidz mengajak mahasiswa kilas balik melihat sejarah kerja sama otomotif kedua negara yang dimulai sejak proyek mobil nasional Timor yang menggandeng pabrikan KIA pada tahun 1996. Saat ini, dinamika tersebut telah bertransformasi ke arah transfer teknologi yang lebih masif dengan berdirinya pabrik raksasa Hyundai di Indonesia.
“Penjualan Hyundai di Indonesia saat ini bahkan didominasi oleh produk yang dirakit di dalam negeri, seperti model Creta hingga mobil listrik canggih Ioniq 5. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar penjualan, melainkan telah menjadi basis produksi dan joint venture yang strategis,” urainya.
Kepercayaan investor Negeri Ginseng terhadap iklim investasi nasional juga terbukti dengan bertenggernya Korea Selatan sebagai negara investor terbesar ke-7 di Indonesia. Investasi ini tidak hanya menyasar sektor hiburan atau ritel ritel seperti jaringan bioskop CGV dan Lotte, tetapi juga menyentuh pembangunan infrastruktur krusial.
Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyatakan dukungannya terhadap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk menjadi kota cerdas dengan teknologi canggih. Komitmen ini diwujudkan salah satunya melalui pemberian hibah untuk pembangunan fasilitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Bendungan Sepaku-Semoi, IKN.
Hubungan bilateral ini digambarkan sebagai ketergantungan berkelanjutan yang saling melengkapi kelebihan masing-masing (complementary strengths). Korea Selatan, dengan keunggulan modal dan inovasi teknologinya, nyatanya sangat bergantung pada Indonesia untuk menjaga stabilitas rantai pasok keamanan energi mereka, seperti menjadi importir utama batu bara termal dan jutaan ton Liquefied Natural Gas (LNG) dari Indonesia.
Selain sumber daya alam, kekuatan demografi Indonesia juga menopang jalannya industri di Korea. Sejak tahun 2016, Indonesia konsisten berada di posisi 8 besar sebagai negara pemasok pekerja migran untuk menggerakkan roda ekonomi di Korea Selatan. (*)

