MALANG, Berifakta.com – Pengembangan pedesaan yang inklusif melalui gerakan Saemaul Undong dan peran krusial komunitas multikultural menjadi topik utama dalam kelas internasional bertajuk “Saemaul Undong and Multicultural Communities: Building Inclusive Rural Development in South Korea”. Penyelenggaraan agenda akademis ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Academy of Korean Studies, yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea (AKS-2023-INC-2230009).
Dalam pemaparannya, Shannaz Mutiara Deniar, M.A., menjelaskan bahwa Saemaul Undong adalah gerakan pembaharuan desa yang diperkenalkan oleh Presiden Park Chung-hee pada awal tahun 1970-an. Gerakan ini lahir sebagai respon atas kesenjangan ekonomi yang lebar antara wilayah perkotaan yang melaju pesat dan pedesaan yang tertinggal. Shannaz menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini tidak lepas dari tiga nilai fundamental yang ditanamkan kepada masyarakat, yaitu kerja keras (diligence), kemandirian (self-help), dan kerjasama (cooperation).
Lebih lanjut, Shannaz menguraikan bahwa pada masa awalnya, fokus utama Saemaul Undong adalah pembangunan infrastruktur fisik dasar dan perubahan mentalitas masyarakat untuk lepas dari kemiskinan pasca perang. Proyek-proyek tersebut meliputi perbaikan atap rumah, sistem irigasi pertanian, hingga penyediaan akses air bersih. Namun, seiring dengan modernisasi dan industrialisasi, Korea Selatan menghadapi tantangan demografi baru berupa urbanisasi massal yang menyebabkan desa-desa kekurangan penduduk usia produktif.
Kekosongan populasi di pedesaan ini kemudian perlahan diisi oleh kehadiran imigran dan keluarga multikultural melalui pernikahan internasional. Shannaz menyoroti bahwa Saemaul Undong kini telah berevolusi menjadi lebih inklusif untuk merangkul keberagaman tersebut. Gerakan ini tidak lagi hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga menyediakan program pelatihan bahasa, pertukaran budaya, serta melibatkan warga asing dalam kepemimpinan komunitas untuk menjembatani perbedaan budaya dan memperkuat integrasi sosial.
Menutup sesi kelas, Shannaz menegaskan bahwa Saemaul Undong telah mendapatkan pengakuan global, termasuk dari UNESCO, sebagai model pembangunan pedesaan yang efektif. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan pendekatan yang merangkul keberagaman, nilai-nilai gotong royong ala Korea ini diharapkan dapat terus relevan dan menjadi inspirasi bagi negara-negara berkembang lainnya dalam membangun desa yang mandiri dan inklusif. (*)

