MALANG, Berifakta.com — Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar diskusi strategis bertajuk “Tourism, Works, and Immigrants in South Korea”. Penyelenggaraan agenda akademis ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Academy of Korean Studies, yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea (AKS-2023-INC-2230009).
Havidz Ageng Prakoso, MA, dosen HI UMM yang menjadi pembicara utama, membedah fenomena Korea Selatan melalui kacamata global cosmopolitanism. Menurutnya, stabilitas ekonomi yang diraih Korea Selatan sejak tahun 1980-an telah mengubah pola migrasi negara tersebut secara drastis.
Transformasi Sejarah dan Kebijakan Imigrasi Havidz memaparkan bahwa sebelum 1945, di bawah kekuasaan Jepang, banyak warga Korea bermigrasi ke AS dan wilayah lain demi keamanan. Namun, pasca-perang Korea dan membaiknya ekonomi, tren ini bergeser. Kini, Korea Selatan justru menjadi magnet bagi warga asing.
Meskipun demikian, pemerintah Korea Selatan menerapkan kebijakan imigrasi yang ketat. “Visa kerja diberikan terbatas, dan naturalisasi dibatasi jumlahnya untuk mencegah konflik horizontal, meski pemerintah tetap menyediakan pendidikan multikultural bagi keluarga naturalisasi,” jelas Havidz.
Daya Tarik Ekonomi dan Pariwisata Salah satu poin krusial yang dibahas adalah tingginya standar gaji di Korea Selatan, yang berkisar antara 1.000 hingga 1.500 USD per bulan. Didukung kebijakan perlindungan pekerja yang anti-diskriminasi, pekerja asing berpotensi menabung hingga 37 persen dari penghasilan mereka.
Di sisi pariwisata, Havidz merinci lima keunggulan utama Korea Selatan: warisan budaya Dinasti Joseon, kuliner (street food), surga belanja, keindahan alam Pulau Jeju, serta transportasi publik yang efisien. “Korea Selatan bukan hanya destinasi bekerja, tetapi paket lengkap modernitas dan budaya,” pungkasnya. (*)

